Pages

Tampilkan postingan dengan label KENANGAN. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label KENANGAN. Tampilkan semua postingan

Jumat, 23 November 2012

KENANGAN : Freddy Henry Meeng Legenda Sepakbola BATAVIA

Mungkin tak banyak orang tau siapa Eddy Meeng. Dan mungkin orang memang sudah lupa tentang sejarah sepakbola kota tempo dulu yang bernama Batavia.

Freddy Henry atau yang biasa disapa Eddy Meeng lahir pada 20 Desember 1908 di Pladjoekota Palembang, Sumatera Selatan. Karena ayahnya di tugaskan di pulau jawa, maka lau ia Keluarga kemudian pindah ke Jawa dan menetap di Batavia (nama kota sebelum jakarta sekarang).

Bersama dengan adiknya Frans, Eddy sangat gila sepak bola. Mereka memiliki bakat yang luar biasa dari anak-anak seusianya. Lalu pada usianya yang ketiga belas ia dan Frans bergabung dalam Asosiasi Sport Internal Administrasi (SVBB), kemudian mereka juga sempat bergabung ke klub Boys Blue, klub yang dididirikan oleh salah seorang petinggi kompeni Belanda. Dan di klub ini lah Eddy tertempa sebagai palang pintu di garis belakang.

Selama berkiprah di blantika sepakbola, Eddy Meeng telah bermain dari 1921 sampai pada Perang Dunia II..Ia juga sempat menyebutkan kalau sang adik Frans adalah seorang pemain lapangan tengah yang baik. Sedangkan Eddy, dulu juga kadang-kadang bermain sebagai penyerang.

Eddy Meeng sangat merasakan kesuksesasannya dalam karik sepakbolanya di era 1928-1930.Yang menjadi kenangan terindah sampai di usia senjanya. Pada era 1928-1930, tim SBVV Batavia memang menjadi tim yang sangat menakutkan di kawasan asia. Di tim ini juga muncul nama-nama besar seperti Lasso, Van Hooydonk, Bert Bax, Sumo (yang di juluki Hercules), Weise, Chris Mols, dan Janus Becker.



Sebagai pelatihnya tim Batavia di isi oleh orang Belanda tulen bernama "Paatje" Crompvoets. Paatje juga termasuk pelatih yang paling berhasil di era tahun 1930 an kenang " Meeng Eddy"
.Keberhasilan SVBB Batavia memang sungguh luar biasa karena prestasinya dicapai setelah beberapa tahun sebagai klub promosi.

Puncak sepakbola Eddy Meeng dalam kehidupannya adalah saat timnya memenangi kejuaraan di Surabaya. Pada saat itu Tim Surabaya memiliki seorang stiker tangguh bernama Bep Bakhuy, bahkan stiker ini pada tahun 1937 menandatangani kontrak dengan FC Metz Perancis. Tapi tugas untuk menjinakan Bep Bakhuy akhirnya sukses di emban Eddy Meeng. Batavia pun akhirnya menang dengan skor 4-3.



Berkat prestasi itu,tim SVBB Batavia akhinya tercatat sebagai klub penyumbang pemain terbanyak dalam tim Hindia Belanda yang berpartisipasi dalam Piala Dunia 1938 di Perancis. Salah satu hal yang ia sesalkan adalah kesempatan yang ia buang takkala ia harus bekerja penjadi angkatan laut , di banding membela tim Hindia Belanda di Piala Dunia 1938. Sementara sang adik Frans Meeng tetap memilih untuk meperkuat tim Hindia Belanda.

Tapi nasip Edy Meeng, masih terbilang beruntung. Mengingat sampai saat ia masih bisa mengenang prestasi sepakbolanya di usia yang menginjak 99 tahun. Sementara sang adik Frans Meeng terbunuh, saat di tangakap tentara Jepang di tahun 1944. Nama Frans Meeng termasuk di dalam 4.200 daftar " Romusha " yang tertawan.


Kamis, 22 November 2012

KENANGAN : Persib vs PSV Eindhoven Maret 1988

Tim legendaris asal Belanda, PSV Eindhoven pada Maret 1988 pernah berkunjung ke Indonesia dalam rangka tur Asia bersama Phillips. Dalam turnya ini, PSV Eindhoven dihadapkan dengan beberapa tim papan atas Indonesia. PERSIB, yang saat itu menjadi tim yang paling bergengsi di tanah air diberi kesempatan melayani PSV Eindhoven dalam friendly match di Stadion Siliwangi.
Yang menarik perhatian, saat itu PSV dihuni pemain-pemain kelas dunia. Sebut saja Ruud Gullit, Ronald Koeman, Wim Kieft, dan Eric Gerets yang pernah menjadi kapten timnas Belgia. Bahkan Ruud Gullit saat itu tengah dipinang tim asal Italia AC Milan dan tercatat sebagai pemecah rekor pemain termahal dunia.
PERSIB, yang pada 1986 menjuarai kompetisi perserikatan harus berjuang keras meladeni Eric Gerets dkk. Maklum para punggawa Maung Bandung kalah segalanya, secara teknis maupun postur badan. Seperti umumnya orang Asia, para pemain PERSIB kalah tinggi dibanding pemain PSV.
“Kami selalu ketinggalan langkah dari para pemain PERSIB. Bisa diibaratkan, satu langkah Ruud Gullit sebanding dengan tiga langkah pemain PERSIB. Tapi saya bangga bisa berhadapan dengan Gullit, setidaknya saya telah berusaha untuk menghadangnya sebelum memasuki daerah pertahanan PERSIB,” ujar Adeng Hudaya, libero sekaligus kapten Maung Bandung.
Bisa ditebak, Ruud Gullit Cs. pun menang mudah. Hasil akhir dari pertandingan ini 4-0 untuk PSV Eindhoven. Gol-gol yang dijaringkan PSV umumnya hasil shooting jarak jauh. Keempat gol PSV Eindhoven dijaringkan oleh Willy van de Kerkhof (1), Eric Gerets (1), dan Ruud Gullit (2). Tim PERSIB yang saat itu ditukangi oleh Nandar Iskandar dan Indra Tohir menggunakan formasi 4-3-3.
“Para pemain Eindhoven memiliki tendangan yang keras dan akurat. Man to man marking yang dijalankan pemain PERSIB tidak bisa berjalan optimal, ini dikarenakan postur tubuh yang beda jauh. Bahkan di-body charge pun malahan kita yang tersungkur,” kenang Adeng.
Sukowiyono,gelandang yang saat itu tampil sebagai starter PERSIB mengatakan formasi yang diterapkan pelatih sebenarnya efektif untuk mengimbangi pergerakan Ruud Gullit c.s. namun harus diakui pemain PERSIB kalah fisik.
Walaupun kalah kelas, pemain PERSIB tidak gentar. Adeng Hudaya dkk. sangat bersemangat memberikan perlawanan kepada lawannya. Buktinya, setelah membobol gawang PERSIB empat kali di babak pertama, usai turun minum PSV tak bisa menambah gol.
“Terlepas dari hasil akhir, bagi saya pertandingan ini jadi pengalaman berharga bagi kami, kapan lagi bisa berhadapan dengan pemain kelas dunia seperti Ruud Gullit Cs.,”ungkap Suko.
Minta Diganti Gara-Gara Gullit
Duel Persib kontra PSV Eindhoven memang bak pertarungan antara David dengan Goliath, pasalnya sebagai tim amatir, Persib harus berhadapan lawan klub elit Liga Belanda yang juga disegani di pentas sepakbola Eropa. Tak heran hanyak kejadian lucu yang terjadi di lapangan hijau.
Pemain belakang PERSIB kocar-kacir menghadapi tekanan beruntun dari lawannya.Tendangan maupun sundulan kelas dunia yang amat bertenaga mengagetkan kiper PERSIB yang dijaga Wawan Hermawan. Baru separuh babak gawang PERSIB sudah kemasukan empat gol.
“Wawan Hermawan sempat menahan bola yang ditendang keras Ruud Gullit. Lucunya, saat Wawan mencoba menahan laju bola malahan badan Wawan yang terbawa masuk ke gawang PERSIB,” kata Adeng sambil tertawa. Senada dengan Adeng, Dede Rosadi yang saat itu turut andil membela Maung Bandung berkisah, para pemain Eindhoven tidak hanya memiliki tendangan yang keras, heading-nya pun membuat kiper Wawan tercengang. “Saking kerasnya heading Ruud Gullit, membuat Wawan ciut. Ia bilang sundulannya saja keras apalagi tendangannya. Di babak kedua Wawan meminta kepada pelatih untuk diganti oleh kiper cadangan yang saat itu dipercayakan kepada Erik Ibrahim,” ujar Dede mengenang..